TUTON MKDU4221 (PENDIDIKAN AGAMA ISLAM)



DISKUSI 1-8
Semoga Bermanfaat untuk Mahasiswa UT

 

  1. Pemikiran manusia tentang tuhan dan ketuhanan berubah sejalan sejalan dengan perubahan daya nalarnya. Sebab itu kesimpulanan yang dihasilkan antara satu masyarakat pada situasi dan kondisi tertentu tentang Tuhan dan Ketuhanan, mungkin berbeda dengan kesimpulan masyarakat yang hidup pada situasi dan kondisi lainya. Seperti dilihat dari sudut pandang sistem kepercayaan yaitu Dinamisme Kepercayaan kepada benda yang mempunyai kekuatan. Tuah atau fetsi pada benda tertentu yang mereka yakini perlu dijaga dan dirawat, agar tidak menimbulkan akibat negatif terhadap diri dan keluarga serta masyarakatnya.  Animisme (Anima = roh), berkeyakinan bahwa suatu benda mempunyai roh (sebangsa makhluk ghaib). Roh diyakini sebagai pemilik benda-benda alam tertentu, misalnya Pohon, batu, atau hewan yang dipandang mempunyai keanehan.  Politeisme Kepercayaan terhadap para Dewa atau Dewi. Henoteisme (satu bangsa = satu Tuhan)Sebagai peningkatan paham pateisme. Dasar pemikiran paham ini adalah setiap satu kesatuan tidak mungkin diatur oleh lebih dari satu pengatur. -Monoteisme 1. Deisme, 2. Panteisme, 3. Elektisme Masyarakat liberal, melepaskan sebagai ikatan yang membatasi pemikiranya. Sebab itu, pengakuan bahwa Tuhan sebagai pencipta alam, tidak mempunyai peranan di alam. Tuhan telah menciptakan alam berpisah dengan-Nya. Tuhan tidak perlu kepada Alam dan alam pun tidak perlu kepada Tuhan. Wahyu Tuhan menurut paham deisme tidak diperlukan oleh manusia. Manusialah yang berhak mengatur kehidupan dialam. Paham Panteisme berpendapat sebaliknya. Kenyataan alam menurut paham panteisme merupakan perwujudan dari sinar Tuhan. Peranan Tuhanlah yang menentukan keberadaan alam. Manusia hanyalah Wayang. Segalanya terserah Tuhan. Jika tuhan menghendaki, apa pun mungkin terjadi. Paham Eklektisme merupakan paduan dari dua paham tersebut. Manusia dengan akalnya hanya berperan sebagai perencanam sedangkan Tuhan sebagai penentunya.
  2. Jelaskan apa makna ketuhanan yang maha esa Seperti dijelaskan dalam modul 1 kb 2, pengertian Tuhan dalam pandangan ajaran islam 1. Allah sebagai Khalik (pencipta),  Adanya alam ini adalah buktinya adanya Tuhan. Jika kita lihat dilingkungan sekitar kita lihat Mahluk hidup dan kita berkeyakinan bahwa tak mungkin benda-benda itu terjadi dengan sendirinya. Pastilah ada yang diciptakan, meskipun kita tidak pernah melihat penciptanya. Pencipta memang tidak sama dengan dengan yang dicipta. Khalik tidak sama dengan makhluk. Ia adalah Zat yang wajib adanya (zat wajibul wujud). Bagaimana jenis dan bentuknya bukanlah jangkauan akal manusia, karena itu kita dilarang memikirkan zat Tuhan. Pikirkan lah ciptaa-nya jangan pikirkan Zat-nya. Dalam Qs Az-Zumar (39):62-63 Artinya : Allah Pencipta segala sesuatu dan Dia pemelihara segala sesuatu (62), bagi-Nya penbendaharaan langit dan bumi. Dan orang-orang yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah mereka itulah orang-orang yang jahil (63). 2. Sifat Allah, Sifat Allah jelas tidak dapat kita tanggkap dengan indra. Tetapi Al-Quran memberikan informasi tentang adany Tuhan dengan sifat-sifat-Nya yang sempurna. Bahw aada 99 nama Tuhan yang mulia (Al-Asmaul’ Al-Husna). 3. Ma’rifatullloh melalui Pikir dan Zikir yaitu Untuk mengenal Allah dapat ditempuh dengan dua cara . a.Melalui Pikir Alam semesta ini diciptakan dengan kekuasaan dan ilmu yang tinggi. Bagi orang yang berfikir dan menggunakan akalnya secara baik ia akan menemukan kekaguman di dalam ciptaan Tuhan. Alam semesta ini berjalan dengan kokoh, rapi, harmonis. b. Melalui Zikir Zikir adalah mengigat Allah dengan menyebut nama-nama-Nya yang mulia dan Sempurna. Zikir bisa dilakukan juga dengan memperbanyak membaca Al-Quran dan Do,a : tahlil, tahmid, takbir. 4. Kekuasaan dan Perbutan Allah, Perbuatan Allah yang meliputi penciptaan, pengembangan dan pemeliharaan, dilakukan-Nya untuk kepentingan manusia dan makhluk lainya.

Diskusi 2
1.      Apa sebenarnya hakikat manusia menurut ajaran islam ?
2.      Bagaimana martabat manusia menurut ajaran islam ?
Jawab
1.      Susunan anggota badan manusia (fisik) sebenarnya kompleks, tidak hanya terdiri dari otak dan jantung saja, yang masing-masing anggota badan satu sama lain dihubungkan melalui syaraf yang sangat kompleks pula. Keadaan itu pun masih menggambarkan manusia yang kurang lengkap, karena kelengkapan manusia tidak hanya dari wujud fisiknya saja, akan tetapi juga dari kenyataan nonfisik yang justru tidak dimiliki oleh makhluk lain. Selain ruh dan jiwa yang memerankan adanya proses berfikir, merasa, bersikap dan berserah diri serta meng
abdi yang merupakan mekanisme, kejiwaan manusia sebagai makhluk Allah, yang dijelaskan dalam Q.S. Al-Mu’minuun (23): 12-14 manusia adalah makhluk Allah SWT yang bersifat lahir (syahadah) dan ghaib (non fisik).  Hidup manusia sangat unik apabila dibandingkan dengan makhluk lain, sebab manusia mempunyai otak dengan susunan syaraf yang memperoses rangsangan dari luar menjadi satu konsep ide atau pikiran dan memiliki rasa (sedih, gembira, sebagainya) yang kemudian dituangkan dalam bentuk perkataan maupun perbuatan apabila seseorang menghadapi suatu peristiwa tertentu seperti: Ungkapan sederhana, misalnya mengucapkan “Astaqfirullah” sebagai ungkapan rasa menyesal, bacaan singkat yang bersifat predikat atau atributif, misalnya membaca “basmallah” ketika memulai suatu pekerjaan, analisis dan perbuatan mengabdi kepada zat Yang Maha Kuasa, misalnya “sujud syukur” apabila kita memperoleh nikmat dari Allah. Oleh karena itu orang beragama atau orang yang beriman, patut mensyukuri atas kelebihan yang diberikan Tuhan kepadanya. Pada intinya hakikat manusia menurut pandangan islam yaitu Manusia adalah makhluk yang mempunyai akal, merasa, dan cendrung kearah kebijakan.

2.      Dalam pandangan orang yang beriman, manusia itu makhluk mulia dan terhormat di sisi Tuhan yang diciptakan dalam bentuk yang amat baik. Sesudah ditiupkan Ruh ke dalam tubuhnya, para malaikat disuruh sujud (memberi hormat) kepadanya. Allah memberi manusia ilmu pengetahuan dan kemauan, jadikan kalifah (penguasa) di bumi, serta menjadi pusat pelaku kegiatan alam ini. Segala apa yang di langit dan di bumi bekerja untuk kepentingan manusia dan kepadanya diberikan hikmat lahir dan batin. Kesimpulanya, apa yang ada di alam ini adalah berhikmat kepada manusia dan diciptakan manusia untuk berhikmat kepda Tuhan. Allah menjelaskan dalam Q.S Adz-Dzaariyaat (51) : 56 yang artinya: aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahku”. 

Karena dikatakan manusia mempunyai martabat adalah
1.      Manusia Makhluk Berakal (dalam diri manusia terdapat sesuatu yang tidak ternilai harganya sebagai anugrah Tuhan yang tidak diberikan akal, niscaya keadaan dan perbuatannya akan sama saja dengan hewan).
2.      Timbulnya Ilmu Pengetahuan (lahirnya ilmu pengetahuan disebabkan kebutuhan-kebutuhan manusia yang berkemauan hidup bahagia, dari pemikiran manusia itu lahirlah beberapa ilmu pengetahuan lain).
3.      Hak dan Kewajiban Manusia (hak adalah imbalan dari kewajiban-kewajiban yang telah ditunaikan) sedangkan (kewajiban disini adalah kewajiban seseorang untuk melakukan perbuatan yang di dalamnya terdapat orang lain). Hukum Islam memberi 4 macam hak terhadap manusia yaitu: Hak Tuhan, Hak Diri Sendiri, Hak Orang Lain, Hak atas Harta.
4.      Manusia Sebagai Khalifah Dunia (tidak ada keraguan bahwa Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi dengan maksud agar mereka menjadi penguasa untuk mengatur dan mengendalikan bumi beserta segala isinya dengan mengindahkan semua ketentuan yang sudah ditetapkan-Nya).

Diskusi 3
1.      Bagaimana sejarah konsep civil society dan masyarakat madani ?
2.      Pancasila merupakan Platfrom bersama, yang bisa dibandingkan dengan piagam Madinah, Jelaskan ?
Jawab:
1.      Istilah civil society mula-mula di inggris dalam masa awal perkembangan kapitalisme modern, yang konon merupakan implikasi pertama penerapan ekonomi Adam Smith dengan karyanya The Wealth of Nation. Pandangan ekonomi Smith itu mendorong perkembangan kewirausawan inggris, yang dalam prosesnya terbentur kepada pembatasn-pembatasan oleh pemerintah karena adanya merkantilisme negara di mana pemerintah terlibat langsung dalam setiap praktik ekonomi sehingga menyulitkan para usahawan mengembangkan usahanya. Para usahawan kemudian menuntut adanya ruang kebebasan di mana dapat bergerak dengan bebas dan leluasa mengembangkan usaha mereka dan pemerintah tidak ikut campur dalam praktik ekonomi. Ruang kebebasan itu merupakan tempat terwujudnya civil society, yang merupakan ruang penengah antara kekuasaan (pemerintah) dan rakyat umum. Jadi, cukup jelas bahwa civil society senantiasa bercirikan kebebasan serta keterlepasan dari keterbatasan oleh kekuasaan.
2.      Masyarakat Madani merujuk pada masyarakat madinah yang dibangun oleh Nabi Muhammad di Madinah. Madinah itu sendiri adalah bahasa Arab yang memiliki pengertian sama dengan bahasa Ibrani. Ketika Nabi Musa mmapu membebaskan masyarakatnya dari mental budak menjadi mental warga masyarakat yang merdeka dengan ciri  taat pada hukum dalam bahasa Ibrani mereka itu disebut dengan medina yang berarti masyarakat beradap karena taat kepada hukum dan aturan. Dalam perkembangannya perkataan ibrani medinat berarti negara. Dalam bahasa arab yang serumpun dengan bahasa ibrani, kata yang menunjuk negara adalah madinah arti kota. Baik madinat maupun madinah sama mengacu pada semangat yang sama seperti pengertian yang sama seperti pengertian negara kota pada masyarakat Yunani Kuno. Ketika Nabi Mengubah kota Yatrsib menjadi madinah pada waktu itu, maka nabi sebenarnya mendeklarasikan terbentuknya suatu masyarakat yang bebas dari kelaziman tirani dan taat hanya kepada hukum dan aturan kepada untuk kesejahteraan bersama. Aturan dan hukum yang di maksud itu tidak dibuat sewenang-wenang oleh penguasa akan tetapi bedasarkan perjanjian (mitasq), kesepakatan (mu’ahadah), kontrak (akad) dan janji setia (bay’at) yang semunya mencerminkan kerelaan, bukan kepaksaan. Karena itu ketaatan dalam masyarakat madani bersifat terbuka, rasional, kontraktual, dan transaksional, bukan pola ketaatan yang tertutup, tidak rasional, tidak kritis, dan hanya satu arah. Masyarakat madani yang dideklarasikan oleh Nabi adalah masyarakat yang adil, terbuka, dan demokrasi, dengan landasan takwa kepada Allah dan taat kepada ajara-Nya. Takwa kepada Allah adalah semangat ketuhanan yang diwujudkan dengan membangun hubungan yang baik dengan Allah dan manusia. Hubungan itu tentu saja harus dilandasi dengan berbudi luhur dan akhlak mulia. Dalam konteks ini menjadi jelas masyarakat madani adalah masyarakat berbudi luhur mengacu pada kehidupan masyarakat berkualitas dan beradap.   
 

Share this

Related Posts

First