DISKUSI 1-8
Semoga Bermanfaat untuk Mahasiswa UT
Diskusi 2
Semoga Bermanfaat untuk Mahasiswa UT
- Pemikiran manusia tentang tuhan dan ketuhanan berubah sejalan
sejalan dengan perubahan daya nalarnya. Sebab itu kesimpulanan yang
dihasilkan antara satu masyarakat pada situasi dan kondisi tertentu
tentang Tuhan dan Ketuhanan, mungkin berbeda dengan kesimpulan
masyarakat yang hidup pada situasi dan kondisi lainya. Seperti dilihat
dari sudut pandang sistem kepercayaan yaitu Dinamisme
Kepercayaan kepada benda yang mempunyai kekuatan. Tuah atau fetsi pada
benda tertentu yang mereka yakini perlu dijaga dan dirawat, agar tidak
menimbulkan akibat negatif terhadap diri dan keluarga serta
masyarakatnya. Animisme (Anima = roh), berkeyakinan bahwa
suatu benda mempunyai roh (sebangsa makhluk ghaib). Roh diyakini sebagai
pemilik benda-benda alam tertentu, misalnya Pohon, batu, atau hewan
yang dipandang mempunyai keanehan. Politeisme Kepercayaan terhadap para Dewa atau Dewi. Henoteisme (satu bangsa = satu Tuhan)Sebagai peningkatan paham pateisme. Dasar pemikiran paham ini adalah setiap satu kesatuan tidak mungkin diatur oleh lebih dari satu pengatur. -Monoteisme 1. Deisme, 2. Panteisme, 3. Elektisme
Masyarakat liberal, melepaskan sebagai ikatan yang membatasi
pemikiranya. Sebab itu, pengakuan bahwa Tuhan sebagai pencipta alam,
tidak mempunyai peranan di alam. Tuhan telah menciptakan alam berpisah
dengan-Nya. Tuhan tidak perlu kepada Alam dan alam pun tidak perlu
kepada Tuhan. Wahyu Tuhan menurut paham deisme tidak diperlukan oleh
manusia. Manusialah yang berhak mengatur kehidupan dialam. Paham Panteisme
berpendapat sebaliknya. Kenyataan alam menurut paham panteisme
merupakan perwujudan dari sinar Tuhan. Peranan Tuhanlah yang menentukan
keberadaan alam. Manusia hanyalah Wayang. Segalanya terserah Tuhan. Jika
tuhan menghendaki, apa pun mungkin terjadi. Paham Eklektisme
merupakan paduan dari dua paham tersebut. Manusia dengan akalnya hanya
berperan sebagai perencanam sedangkan Tuhan sebagai penentunya.
- Jelaskan apa makna ketuhanan yang maha esa Seperti dijelaskan dalam modul 1 kb 2, pengertian Tuhan dalam pandangan ajaran islam 1. Allah sebagai Khalik (pencipta), Adanya alam ini adalah buktinya adanya Tuhan. Jika kita lihat dilingkungan sekitar kita lihat Mahluk hidup dan kita berkeyakinan bahwa tak mungkin benda-benda itu terjadi dengan sendirinya. Pastilah ada yang diciptakan, meskipun kita tidak pernah melihat penciptanya. Pencipta memang tidak sama dengan dengan yang dicipta. Khalik tidak sama dengan makhluk. Ia adalah Zat yang wajib adanya (zat wajibul wujud). Bagaimana jenis dan bentuknya bukanlah jangkauan akal manusia, karena itu kita dilarang memikirkan zat Tuhan. Pikirkan lah ciptaa-nya jangan pikirkan Zat-nya. Dalam Qs Az-Zumar (39):62-63 Artinya : Allah Pencipta segala sesuatu dan Dia pemelihara segala sesuatu (62), bagi-Nya penbendaharaan langit dan bumi. Dan orang-orang yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah mereka itulah orang-orang yang jahil (63). 2. Sifat Allah, Sifat Allah jelas tidak dapat kita tanggkap dengan indra. Tetapi Al-Quran memberikan informasi tentang adany Tuhan dengan sifat-sifat-Nya yang sempurna. Bahw aada 99 nama Tuhan yang mulia (Al-Asmaul’ Al-Husna). 3. Ma’rifatullloh melalui Pikir dan Zikir yaitu Untuk mengenal Allah dapat ditempuh dengan dua cara . a.Melalui Pikir Alam semesta ini diciptakan dengan kekuasaan dan ilmu yang tinggi. Bagi orang yang berfikir dan menggunakan akalnya secara baik ia akan menemukan kekaguman di dalam ciptaan Tuhan. Alam semesta ini berjalan dengan kokoh, rapi, harmonis. b. Melalui Zikir Zikir adalah mengigat Allah dengan menyebut nama-nama-Nya yang mulia dan Sempurna. Zikir bisa dilakukan juga dengan memperbanyak membaca Al-Quran dan Do,a : tahlil, tahmid, takbir. 4. Kekuasaan dan Perbutan Allah, Perbuatan Allah yang meliputi penciptaan, pengembangan dan pemeliharaan, dilakukan-Nya untuk kepentingan manusia dan makhluk lainya.
Diskusi 2
1.
Apa sebenarnya
hakikat manusia menurut ajaran islam ?
2.
Bagaimana
martabat manusia menurut ajaran islam ?
Jawab
1.
Susunan anggota
badan manusia (fisik) sebenarnya kompleks, tidak hanya terdiri dari otak dan
jantung saja, yang masing-masing anggota badan satu sama lain dihubungkan
melalui syaraf yang sangat kompleks pula. Keadaan itu pun masih menggambarkan
manusia yang kurang lengkap, karena kelengkapan manusia tidak hanya dari wujud
fisiknya saja, akan tetapi juga dari kenyataan nonfisik yang justru tidak
dimiliki oleh makhluk lain. Selain ruh dan jiwa yang memerankan adanya proses
berfikir, merasa, bersikap dan berserah diri serta meng
abdi yang merupakan mekanisme, kejiwaan manusia sebagai makhluk Allah, yang dijelaskan dalam Q.S. Al-Mu’minuun (23): 12-14 manusia adalah makhluk Allah SWT yang bersifat lahir (syahadah) dan ghaib (non fisik). Hidup manusia sangat unik apabila dibandingkan dengan makhluk lain, sebab manusia mempunyai otak dengan susunan syaraf yang memperoses rangsangan dari luar menjadi satu konsep ide atau pikiran dan memiliki rasa (sedih, gembira, sebagainya) yang kemudian dituangkan dalam bentuk perkataan maupun perbuatan apabila seseorang menghadapi suatu peristiwa tertentu seperti: Ungkapan sederhana, misalnya mengucapkan “Astaqfirullah” sebagai ungkapan rasa menyesal, bacaan singkat yang bersifat predikat atau atributif, misalnya membaca “basmallah” ketika memulai suatu pekerjaan, analisis dan perbuatan mengabdi kepada zat Yang Maha Kuasa, misalnya “sujud syukur” apabila kita memperoleh nikmat dari Allah. Oleh karena itu orang beragama atau orang yang beriman, patut mensyukuri atas kelebihan yang diberikan Tuhan kepadanya. Pada intinya hakikat manusia menurut pandangan islam yaitu Manusia adalah makhluk yang mempunyai akal, merasa, dan cendrung kearah kebijakan.
abdi yang merupakan mekanisme, kejiwaan manusia sebagai makhluk Allah, yang dijelaskan dalam Q.S. Al-Mu’minuun (23): 12-14 manusia adalah makhluk Allah SWT yang bersifat lahir (syahadah) dan ghaib (non fisik). Hidup manusia sangat unik apabila dibandingkan dengan makhluk lain, sebab manusia mempunyai otak dengan susunan syaraf yang memperoses rangsangan dari luar menjadi satu konsep ide atau pikiran dan memiliki rasa (sedih, gembira, sebagainya) yang kemudian dituangkan dalam bentuk perkataan maupun perbuatan apabila seseorang menghadapi suatu peristiwa tertentu seperti: Ungkapan sederhana, misalnya mengucapkan “Astaqfirullah” sebagai ungkapan rasa menyesal, bacaan singkat yang bersifat predikat atau atributif, misalnya membaca “basmallah” ketika memulai suatu pekerjaan, analisis dan perbuatan mengabdi kepada zat Yang Maha Kuasa, misalnya “sujud syukur” apabila kita memperoleh nikmat dari Allah. Oleh karena itu orang beragama atau orang yang beriman, patut mensyukuri atas kelebihan yang diberikan Tuhan kepadanya. Pada intinya hakikat manusia menurut pandangan islam yaitu Manusia adalah makhluk yang mempunyai akal, merasa, dan cendrung kearah kebijakan.
2.
Dalam pandangan
orang yang beriman, manusia itu makhluk mulia dan terhormat di sisi Tuhan yang
diciptakan dalam bentuk yang amat baik. Sesudah ditiupkan Ruh ke dalam
tubuhnya, para malaikat disuruh sujud (memberi hormat) kepadanya. Allah memberi
manusia ilmu pengetahuan dan kemauan, jadikan kalifah (penguasa) di bumi, serta
menjadi pusat pelaku kegiatan alam ini. Segala apa yang di langit dan di bumi
bekerja untuk kepentingan manusia dan kepadanya diberikan hikmat lahir dan
batin. Kesimpulanya, apa yang ada di alam ini adalah berhikmat kepada manusia
dan diciptakan manusia untuk berhikmat kepda Tuhan. Allah menjelaskan dalam Q.S
Adz-Dzaariyaat (51) : 56 yang artinya: aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka menyembahku”.
Karena
dikatakan manusia mempunyai martabat adalah
1.
Manusia Makhluk
Berakal (dalam diri manusia terdapat sesuatu yang tidak ternilai harganya
sebagai anugrah Tuhan yang tidak diberikan akal, niscaya keadaan dan
perbuatannya akan sama saja dengan hewan).
2.
Timbulnya Ilmu
Pengetahuan (lahirnya ilmu pengetahuan disebabkan kebutuhan-kebutuhan manusia
yang berkemauan hidup bahagia, dari pemikiran manusia itu lahirlah beberapa
ilmu pengetahuan lain).
3.
Hak dan
Kewajiban Manusia (hak adalah imbalan dari kewajiban-kewajiban yang telah
ditunaikan) sedangkan (kewajiban disini adalah kewajiban seseorang untuk
melakukan perbuatan yang di dalamnya terdapat orang lain). Hukum Islam memberi
4 macam hak terhadap manusia yaitu: Hak Tuhan, Hak Diri Sendiri, Hak Orang
Lain, Hak atas Harta.
4.
Manusia Sebagai
Khalifah Dunia (tidak ada keraguan bahwa Allah menjadikan manusia sebagai
khalifah di bumi dengan maksud agar mereka menjadi penguasa untuk mengatur dan
mengendalikan bumi beserta segala isinya dengan mengindahkan semua ketentuan
yang sudah ditetapkan-Nya).
Diskusi 3
1.
Bagaimana
sejarah konsep civil society dan masyarakat madani ?
2.
Pancasila
merupakan Platfrom bersama, yang bisa dibandingkan dengan piagam Madinah,
Jelaskan ?
Jawab:
1.
Istilah civil society mula-mula di inggris dalam
masa awal perkembangan kapitalisme modern, yang konon merupakan implikasi
pertama penerapan ekonomi Adam Smith dengan karyanya The Wealth of Nation. Pandangan ekonomi Smith itu mendorong
perkembangan kewirausawan inggris, yang dalam prosesnya terbentur kepada
pembatasn-pembatasan oleh pemerintah karena adanya merkantilisme negara di mana
pemerintah terlibat langsung dalam setiap praktik ekonomi sehingga menyulitkan
para usahawan mengembangkan usahanya. Para usahawan kemudian menuntut adanya
ruang kebebasan di mana dapat bergerak dengan bebas dan leluasa mengembangkan
usaha mereka dan pemerintah tidak ikut campur dalam praktik ekonomi. Ruang
kebebasan itu merupakan tempat terwujudnya civil society, yang merupakan ruang
penengah antara kekuasaan (pemerintah) dan rakyat umum. Jadi, cukup jelas bahwa
civil society senantiasa bercirikan
kebebasan serta keterlepasan dari keterbatasan oleh kekuasaan.
2.
Masyarakat
Madani merujuk pada masyarakat madinah yang dibangun oleh Nabi Muhammad di
Madinah. Madinah itu sendiri adalah bahasa Arab yang memiliki pengertian sama
dengan bahasa Ibrani. Ketika Nabi Musa mmapu membebaskan masyarakatnya dari
mental budak menjadi mental warga masyarakat yang merdeka dengan ciri taat pada hukum dalam bahasa Ibrani mereka
itu disebut dengan medina yang
berarti masyarakat beradap karena taat kepada hukum dan aturan. Dalam
perkembangannya perkataan ibrani medinat berarti
negara. Dalam bahasa arab yang serumpun dengan bahasa ibrani, kata yang
menunjuk negara adalah madinah arti
kota. Baik madinat maupun madinah
sama mengacu pada semangat yang sama seperti pengertian yang sama seperti
pengertian negara kota pada masyarakat Yunani Kuno. Ketika Nabi Mengubah kota
Yatrsib menjadi madinah pada waktu itu, maka nabi sebenarnya mendeklarasikan
terbentuknya suatu masyarakat yang bebas dari kelaziman tirani dan taat hanya
kepada hukum dan aturan kepada untuk kesejahteraan bersama. Aturan dan hukum
yang di maksud itu tidak dibuat sewenang-wenang oleh penguasa akan tetapi bedasarkan
perjanjian (mitasq), kesepakatan (mu’ahadah), kontrak (akad) dan janji
setia (bay’at) yang semunya
mencerminkan kerelaan, bukan kepaksaan. Karena itu ketaatan dalam masyarakat
madani bersifat terbuka, rasional, kontraktual, dan transaksional, bukan pola
ketaatan yang tertutup, tidak rasional, tidak kritis, dan hanya satu arah.
Masyarakat madani yang dideklarasikan oleh Nabi adalah masyarakat yang adil,
terbuka, dan demokrasi, dengan landasan takwa kepada Allah dan taat kepada
ajara-Nya. Takwa kepada Allah adalah semangat ketuhanan yang diwujudkan dengan
membangun hubungan yang baik dengan Allah dan manusia. Hubungan itu tentu saja
harus dilandasi dengan berbudi luhur dan akhlak mulia. Dalam konteks ini
menjadi jelas masyarakat madani adalah masyarakat berbudi luhur mengacu pada
kehidupan masyarakat berkualitas dan beradap.
